<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Watulawang &#187; Desaku</title>
	<atom:link href="http://watulawang.takaful-insurance.net/category/desaku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://watulawang.takaful-insurance.net</link>
	<description>Blog ini backup/miror dari www.watulawang.co.cc. Untuk update post terbaru silakan kunjungi www.watulawang.co.cc</description>
	<pubDate>Thu, 11 Dec 2008 04:13:07 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Watulawang, desa kecil di puncak bukit..</title>
		<link>http://watulawang.takaful-insurance.net/watulawang-desa-kecil-di-puncak-bukit/</link>
		<comments>http://watulawang.takaful-insurance.net/watulawang-desa-kecil-di-puncak-bukit/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 02:27:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Shun</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Desaku]]></category>

		<category><![CDATA[Desa]]></category>

		<category><![CDATA[Watulawang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://watulawang.co.cc/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[
“Desa Watulawang, RT. 09 RW. 2
Kecamatan Pejagoan, Kabupaten  Kebumen
Jawa Tengah”
Diatas, adalah alamat lengkap rumahku. Alamat yang aku sendiri baru tahu  (hapal) setelah aku 9 tahun lebih tinggal di Malang. Well, tentu bagian yang aku  ga ingat hanya RT/RW.
Aku sendiri memang ga pernah menyempatkan diri untuk meningat RTRW tadi,  sampai September 2008 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://watulawang-kebumen.co.cc/image/rumahku.jpg" alt="rumahku di desa" /></p>
<p>“Desa Watulawang, RT. 09 RW. 2<br />
Kecamatan Pejagoan, Kabupaten  Kebumen<br />
Jawa Tengah”</p>
<p>Diatas, adalah alamat lengkap rumahku. Alamat yang aku sendiri baru tahu  (hapal) setelah aku 9 tahun lebih tinggal di Malang. Well, tentu bagian yang aku  ga ingat hanya RT/RW.</p>
<p>Aku sendiri memang ga pernah menyempatkan diri untuk meningat RTRW tadi,  sampai September 2008 kemarin, ketika secara terpaksa aku harus mewakili  keluargaku untuk pergi Kerja Bakti, membangun selokan desa, aku baru tahu kalau  rumahku masuk wilayah RT 9, dan akupun kemudian membaur dengan para warga se-RT,  mengerjakan bagian jatah kerja bakti kami.</p>
<p>Kerja bakti tersebut, memakan waktu 4 hari, 3 hari diantaranya hanya sampai Dhuhur, dan 1 hari sampe ashar, mendekati magrib. Dan itu adalah pengalaman tak terlupakan buat aku, karena waktu itu adalah bulan puasa, sementara aku harus hilir mudik menenteng 2 ember ukuran 3 liter berisi adukan semen, sampai-sampai bahuku sakit dan seminggu kemudian baru sembuh benar (maklum orang kota, dan kerjaan tiap hari cuman duduk di depan komputer :P).<span id="more-155"></span></p>
<p>Desaku, yang sampai sekarang masih termasuk desa tertinggal (eh apa sudah dicabut ya, “gelar kehormatan” tersebut?), dan sejauh ingatanku, kami sering sekali mendapatkan bantuan dari pemerintah dalam jumlah yang cukup mengesankan, yang dengan sendirinya membuat desa sebelahku yang lebih maju, sering melontarkan protes dan komentar bernada iri. Bantuan tersebut, sebagian besar untuk perbaikan infrastruktur desa dan fasilitas umum lainnya. Yang paling banyak, seingatku juga, adalah dana untuk membangun jalan. Namun sampai sekarang jalan desaku belum diaspal, hanya berupa jalan batu dengan 2 jalur cor, masing-masing lebarnya sekitar 50 centi meter dan jarak antara keduanya sekitar 60-1 meter.</p>
<p>Desaku, juga memiliki Masjid yang sangat “memprihatinkan”.</p>
<p>Betapa tidak, setelah hampir 2 tahun berdiri, bangunan seluas sekitar 15×15 meter tersebut, masih berdinding bata tanpa pleseter (masih berupa bata ditumpuk dengan perekat semen, dan sangat kasar), serta lantai yang hanya plesteran dari campuran pasir dan semen (kalau orang desaku bilang “lepa”). Kondisi lantai ini seperti lantai yang agak dipasang keramik, tapi tanpa keramik.</p>
<p>Sehingga, kalau kita sholat tanpa alas, maka waktu kita sujud, akan ada butiran pasir dan serbuk semen yang menempel di dahi, dan waktu kita duduk maka akan ada butiran pasir dan serbuk semen yang menempel di kaki, dan waktu kita keluar dari masjid tanpa melap muka dulu, maka akan terlihat dahi kita ada corengan putih dan kaki kita putih juga, kalau orang desaku bilang “bathak”. Sebelumnya, masjid desa kami hanya berukuran sekitar 10×10, dan karena ada semacam sengketa tanah, akhirnya terpaksa dibongkar dan pindah ke lokasi baru, di dekat Balai Desa.</p>
<p>Watulawang, desaku tercinta ini, juga hanya memiliki penduduk yang tidak bisa dibilang banyak, hanya sekitar 220 KK dan sekitar 1200 jiwa, dan angka ini cenderung berkembang secara lambat sekali, hampir tidak ada perkembangan. Hal ini bisa dimaklumi karena mayoritas kaum muda desa kami, setelah lulus dari sma, atau setelah kita-kita berumur 18 tahun (meskipun tidak sekolah) pergi merantau ke Jakarta atau kota-kota besar lain. Bahkan ada yang sudah sedari lulus SMP, bahkan SD, sudah meninggalkan desa, untuk mencari pendidikan di kota lain, atau juga ikut kerabat jauhnya yang lebih mampu untuk mensekolahkan mereka. Dan kalaupun ada yang tinggal di desa selama masa SMA, rata2 mereka hanya tinggal di desa di akhir pekan. Karena jarak sekolah mereka dan desa kami lebih dari 20 kilometer, maka hampir semua dari mereka memilih tinggal di kost-kostan dekat sekolah mereka.</p>
<p>Setelah lulus SMA, atau setelah kerja di perantauan, biasanya mereka jarang yang mau balik lagi ke desa. Rata-rata mencari pekerjan di kota-kota besar, kemudian mendapatkan jodoh mereka disana, dan akhirnya menetap di kota.</p>
<p>Banyak juga warga desaku yang pergi bertransmigrasi, dan mayoritas dari mereka ketika pulang waktu lebaran, membawa berbagai macam barang mahal, yang menandakakan mereka sukses di sana (meskipun rata-rata mereka pulang kampung setelah beberapa tahun menetap di luar pulau). Mayoritas dari orang transmigrasi tersebut, membuka usaha kebun sawit, atau juga bertanam padi.</p>
<p>Aku mengalami masa kecil yang cukup bahagia di desa Watulawang, meskipun tidak bisa dibilang indah, hehe.</p>
<p>Aku meninggalkan desaku, sejak aku berumur 14 tahun, kelas 2 SMP, dan pindah ke Kota Malang, untuk meneruskan sekolah, yang kemudian dari sinilah, tercipta garis kehidupan seorang remaja kecil perantauan dari Kebumen, yang mana garis kehidupan tersebut sama sekali tidak pernah tergambar dalam pikirannya dulu. (Well, masih cukup dini juga untuk mengatakan “garis kehidupan” tersebut,  mengingat aku masih bisa dibilang muda :P)</p>
<p>Oh ya, kl ada yang nanya nomor rumahku, aku sendiri sampe sekarang ga ingat, hehe. Di desaku, memang orang hampir ga pernah menghapal alamat, tapi kami semua saling kenal, dan saling tahu rumah masing-masing. Begitulah, kehidupan di desa <img src='http://watulawang.takaful-insurance.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://watulawang.takaful-insurance.net/watulawang-desa-kecil-di-puncak-bukit/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

